sayasatya@Yogyakarta

Laporan ketiga siap!!!

Saya akan melaporkan hasil KKL saya di Yoglakarta…..

 

 

CANDI PRAMBANAN

 

 

Candi Prambanan atau Candi Siwa juga sering diseut candi Loro Jongrang ini merupakan tempat upacara agama yang digunakan untuk menghormati Dewa Trimurti yaitu Brahma, Siwa, dan Wisnu.

1.      Lokasi Candi Prambanan

Candi Prambanan terletak persis di peratasan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa Tengah, kurang lebih 17 km kea rah timur dari kota Yogyakarta atau  kurang lebih 53 km sebelah barat Solo. Kompleks percandian  Prambanan ini masuk ke dalam dua wilayah yakni kompleks bagain barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk wilayah propinsi Jawa Tengah. Percandian Prambanan berdiri di sebelah timur suangai Opak kurang lebih 200 meter sebelah utara jalan raya Yogya – Solo.

2.      Deskripsi Bangunan

Kompleks  percandian Prambanan terdiri atas latar bawah, latar tengah dan latar atas atau latar pusat yang semakin ke arah dalam semakin tinggi leteaknya. Berturut – turut luasnya 390 meter persegi, 222 meter persegi dan 110 meter persegi. Di dalam latar tengah terdapat reruntuhan candi – candi Perwara, dimana apabila seluruhnya telah selesai dipugar , maka aka nada 224 candi yang ukurannya sama yaitu luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter. Latar pusat adalah latar terpenting dimana di atasnya berdiri 16 candi besar dan candi kecil. Candi – candi uatama berdiri atas dua deret yang saling berhadapan. Deret pertama yaitu Candi Siwa, Candi Wisnu dan Candi Brahma. Deret kedua yaitu Candi Nandi, Candi Angsa dan Candi Garuda. Pada ujung – ujung lorong yang memisahkan kedua deretan candi tersubut terdapat candi Apit. Delapan candi lainya lebih kecil. Empat diantaranya Candi Kelir dan empat candi lainya disebut Candi Sudut. Secara keseluruhan percandian ini terdiri dari 240 candi.

3.      Candi – candi di Prambanan

a.      Candi Siwa

Candi dengan luas dasar 34 meter persegi dan tinggi 47 meter persegi adalah candi terbesar dan tertinggi. Dinamakan candi Siwa karena didalamanya terdapat arca Siwa Mahadewa yang merupakan arca terbesar. Bangunan ini terbagi atas tiga bagian secara vertical kaki, tubuh dan kepala atau atap. Kaki candi menggambarkan “dunia bawah” tempat manusia yang masih diliputi oleh hawa nafsu, tubuh candi menggambarkan “dunia tengah” tempat manusia yang telah meninggalkan keduniaan dan di atas melukiskan “dunia atas” tempat para dewa.
Gambar kosmos nampak pula dengan adanya arca dewa – dewa dan mahluk surgawi yang menggambarkan Gunung Mahameru ( Mount Everest di India ) tempat para dewa. Pintu utama menghadap ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar. Di tangan kirinya berdiri dua arca raksasa penjaga, dengan membawa gada yang merupakan manifestasi dari Siwa. Di dalam candi terdapat empat ruangan yang menghadap ke arah mata angin dan mengelilingi ruangan terbesar yang ada di tengah – tengah. Kamar terdepan kosong, sedangkan ketiga kamar lainnya masing – masing berisi arca : Siwa Maha Guru, Ganesha dan Durga.
Dasar kaki candi dikelilingi oleh selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Pada dinding langkan terdapat relief cerita Ramayana yang dapat diikuti dengan cara Pradaksina ( berjalan searah jarum jam) mulai dari pintu utama. Hiasan – hiasan pada dinding sebelah luar berupa “kinari – kinari” ( kepala raksasa yang lidahnnya berwujud sepasang mitologi) dan mahluk surgawi lainnya.

Atap candi bertingkat – tingkat dengan susunan yang amat komplek masing –masing dihiasi sejumlah ratna dan puncaknya terdapat ratna terbesar.

1.      Arca Siwa Mahadewa

Menurut ajaran Trimurti – Hindu, yang paling dihormati adalah dewa Brahma sebagai pencipta alam, kemudian dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan dewa Siwa sebagai perusak alam. Tetapi di India maupun di Indonesia, Siwa adalah dewa yang paling terkenal.
Di Jawa, dia dianggap yang tertinggi, karenanya ada yang menghormatinya sebagai Mahadewa. Arca ini mempunyai tinggi 3 meter berdiri di atas landasan batu setinggi 1 meter.
Di antara kaki arca dan landasanya terdapat batu bundar berbentuk bunga teratai. Arca ini menggambarkan Raja Balitung, tanda – tanda sebagai Siwa adalah tengkorak di atas Bulan Sabit pada mahkotanya, mata ketiga pada dahinya, bertangan empat berselampangkan ular, kulit harimau di pingganya serta senjata trisula pada sandaran arcanya. Tangan – tanganya memegang kipas, tasbih, tunas bunga teratai, dan benda bulat sebagai benih alam semesta. Raja Balitung dipandang sebagai penjelmaan Siwa oleh keturunan dan rakyatnya.

2.      Arca Siwa Mahaguru
Arca ini berwujud seorang tua yang berjanggut yang berdiri dengan perut gendut. Tangan kananya memegang tasbih, tangan kiri memegang kendi, dan bahunya terdapat kipas. Semuanya adalah tanda – tanda seorang pertapa. Trisula yang terletak di sebelah belakangnya menandakan senjata khas Siwa. Arca ini menggambarkan pendeta alam dalam istana Raja Balitung sekaligus seorang penasihat dan guru. Karena besar jasanya dalam menyebarkan agama Hindu – Siwa, maka ia dianggap salah satu aspek atau bentuk dari Siwa.

 3.      Arca Ganesha
Arca ini berwujud manusia berkepala gajah, bertangan empat yang sedang duduk dengan perut gendut. Tangan – tangan belakangnya memegang tasbih dan kampak sedangkan tangan – tangannya memegang pahatan gadingnya sendiri dan sebuah mangkuk. Ujung belalainya dimasukan ke dalam mangkuk itu yang menggambarkan bahwa ia tak pernah puas meneguk ilmu pengetahuan. Ganesha memang menjadi lambang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, penghalau segala kesulitan. Pada mahkotanya terdapat tengkorak dan bulan sabit sebagai tanda bahwa ia anak Siwa dan Uma, istrinya. Arca ini menggambarkan putra mahkota sekaligus panglima perang Raja Balitung.

 4.      Arca Durga atau Loro Jonggrang
Arca ini berwujud seorang wanita bertangan delapan yang memegang beraneka macam senjata : cakra, gada, anak panah, ekor banteng, sankha, perisai, busur, panah, dan rambut berkepala Asura. Ia berdiri di atas benteng Nandi dalam sikap tribangga ( tiga gaya gerak yang membentuk tiga lekukan tubuh) Banteng Nandi sebenarnya penjelmaan Daru Asura yang menyamar.
Durga berhasil mengalahkanya dan menginjaknya sehingga dari mulutnya keluarlah Asura yang lalu ditangkapnya. Ia adalah salah satu aspek dari sakti isteri Siwa.
Menurut metologi ia tercipta dari lidah –lidah api yang keluar dari tubuh para dewa. Durga adalah dewa kematian, karenanya arca ini menghadap ke utara yang merupakan arah mata angin kematian. Sebenarnya arca ini sangat indah apabila dilihat dari kejauhan nampak seperti hidup dan tersenyum namun hidungnya telah dirusak oleh tangan –tangan jahil. Arca ini menggambarkan permaisuri Raja Belitung.

 b.      Candi Brahma

Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginya 37 meter. Di dalam satu- satunya ruangan yang ada berdirilah arca Brahma berkepala empat dan berlengan empat. Arca ini sebenarnya sangat indah tetapi sudah rusak. Salah satu tangannya memegang tasbih yang menggambarkan waktu dan yang satu memegang kamandalu tempat air. Keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda masing – masing menghadap keempat arah mata angin. Keempat lengannya menggambarkan keempat arah mata angin. Sebagai pencipta, ia membawa air karena seluruh alam keluar dari air.

Dasar kaki candi juga dikelilingi oleh selasar yang dibatasi oleh pagar langkan dimana pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief lanjutan cerita ramayana dan relief serupa pada candi Siwa hingga tamat.

c.       Candi Wisnu

Bentuk dan ukuran relief serta hiasan dinding luarnya sama dengan Candi Brahma. Di dalam satu – satunya ruangan yang ada berdirilah arca Wisnu bertangan empat yang memegang gada, cakra, tiram. Pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief cerita kresna sebagai avatara atau penjelmaan Wisnu dan Balarama (Baladewa) kakaknya.

d.      Candi Nandi

Luas dasarnya 15 meter persegi dan tingginya 25 meter. Di dalam satu – satunya ruangan yang ada, terbaring arca seekor lembu jantan dalam sikap merdeka dengan panjang kurang lebih 2 meter. Di sudut belakangnya terdapat arca Dewa Candra. Candra yang bermata tiga berdiri di atas kereta yang ditarik oleh 7 ekor kuda. Candi ini sudah runtuh.

e.      Candi Angsa

Candi ini berisi satu ruangan yang tak berisi apapun. Luas dasarnya 13 meter persegi dan tingginya 22 meter. Mungkin ruangan ini hanya digunakan untuk kandang angsa atau hewan yang biasa dikendarai oleh Brahma.

f.        Candi Garuda

Bentuk dan ukuran serta hiasan dindingnya sama dengan Candi Angsa. Di dalam satu – satunya ruangan yang ada terdapat arca kecil yang berwujud seekor garuda di atas seekor naga.

g.      Candi Apit

Luas dasarnya 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter, ruanganya kosong, mungkin candi ini digunakan untuk bersemedi untuk memasuki candi induk. Karena keindahanya mungkin digunakan untuk menanamkan estetika dalam komplek percandian Prambanan.

h.      Candi Kelir

Luas dasarnya 1,55 m2 dengan tinggi 4,10 meter. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk fungsinya sebagai penolak bala.

i.        Candi Sudut

Ukuran candi – candi ini sama dengan candi kelir.

4.      Candi – candi lain di sekitar Prambanan

a.      Candi Lumbung, Bubrah dan Sewu

Ketiga candi ini tinggal reruntuhan kecuali candi Sewu yang masih bisa dinikmati keindahanya, semuanya terletak dalam komplek candi Prambanan.

b.      Candi Plaosan

Letaknya kurang lebih 1 km ke arah timur candi Sewu. Candi ini dibangun pada pertengahan abad 9 M oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah kepada permaisurinya. Kelompok Candi Plaosan Lor (utara) terdiri atas dua candi induk, 58 perwara dan 126 stupa. Kelompok candi Plaosan kidul (selatan) hanya berupa sebuah candi. Halaman candi induk terbagi 2 yang masing – masing di atasnya berdiri sebuah biara bertingkat dua . Tingkat atas untuk tempat tinggal para pendeta Budha dan tingkat bawah untuk kegiatan keagamaan.

c.       Candi Sajiwon

Letak candi ini kurang lebih 2 km ke arah tenggara dari percandian Prambanan. Sebagian besar hanya berupa reruntuhan. Pada kaki candi terpahat relief cerita bintang yang mengandung nilai – nilai filsafat.

d.      Candi Boko

Letaknya kurang lebih 3 km ke arah selatan dari percandiaan Prambanan, berdiri di atas bukit kidul yang merupakan lanjutan dari pegunungan seribu dengan pemandangan alam nan permai di sekitarnya. Bangunan ini sangat unik berbeda dengan bangunan – bangunan lain di sekitarnya dan lebih mengesankan sebuah keraton (istana).

Diperkirakan Balaputera Dewa dan Dinasti Syailendra yang beragama budha mendirikanya pada pertengahan abad 9 M sebagai benteng pertahanan yang strategis terhadap Rakai Pikatan. Menurut legenda disinalah letak istana Ratu Boko, ayah Loro Jonggrang.

e.      Candi Banyunibo

Candi ini terletak kurang lebih 200 meter ke arah tenggara dari candi Boko, berdiri di atas sebuah lembah. Banyu berarti air, nibo berarti jatuh menetas.

f.        Candi Sari

Sari berarti indah atau cantik sesuai bentuknya yang ramping. Mungkin karena keindahanya yang menarik perhatian ia dinamakan demikian. Puncak atapnya berhiasakan 9 stupa yang sama sebangun dan tersusun dalam tiga deret. Di bawah masing – masing stupa terdapat ruangan – ruangan yang bertingkat 2 yang digunakan sebagai tempat meditasi dan mengajar.

Arca – arca Bodhisattwa terpahat pada dinding luarnya. Dinding ini dihias dengan amat indahnya biara Budha yang dibangun pada abad 8 M ini terletak pada sisi kiri jalan raya Yogya – Solo, masuk kurang lebih 500 meter ke arah utara. Bangunan dengan panjang 17, 32 meter dan lebar 10 meter ini merupakan sebagian saja dari kumpulan candi yang telah hilang.

g.      Candi Kalasan

Peninggalan agama Budha tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa tengah adalah candi Kalasan. Candi ini terletak pada sisi sebelah kanan jalan raya Yogya – Solo 13 km masuk beberapa puluh meter ke arah selatan. Candi ini didirikan oleh Panangkaran, raja kedua dari kerajaan Mataram kuno pada abad 8 M sebagai persembahan kepada Dewi Tara. Lengkung kala – makara dengan hiasan khayangan di atasnya terpahat pintu masuk dengan begitu indahnya. Keindahan hiasan dan relief – reliefnya disebabkan oleh sejenis semen kuno bajralepa. Candi ini dianggap permata kesenian Jawa Tengah.

 h.      Candi Sambisari

Letaknya kurang lebih 5,5 km dari percandiaan Prambanan ke arah barat dan kurang lebih 2,5 km ke arah utara dari jalan raya Yogya – Solo. Setelah terpendam, selama berabad – abad karena letusan Gunung Merapi pada bulan juli 1966 ditemukan kembali secara kebetulan oleh seorang petani yang tengah mengerjakan sawahnya. Kemudian di perbaiki dan pada tahun 1986 telah selesai.

 

 

Salah satu dokumentasi saya dan teman – teman saat berada di Candi prambanan :

saya dan teman - teman di Candi Prambanan

By ayusatyaratni Posted in Laporan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s